Hai
seperti biasa, selalu ku awali dengan "Setelah sekian lama, akhirnya..."
mencoba meneruskan kembali hobi yang tertunda cukup lama, tujuannya simple, agar teringat kembali bagaimana aku bertumbuh dan memeluk diri sendiri
it's been a reallyyyyy hard time for me, yaa.. quarter life crisis benar adanya
di usia yaang aku mulai berpikir nggak muda ini, you know.. society makes the standard khususnya perempuan, harus strugle dengan pencapaian yang menurutku nggak logis untuk bisa dicapai semua orang, karena kita punya takdir yang berbeda, tapi pada akhirnya.. seperti tertanam di alam bawah sadar, aku mempercayai standar itu
that's why i've always overthink about life
terkadang aku bingung merespon banyak hal, karena aku punya banyak POV tentang permasalahan, pada akhirnya aku let it flow aja sihh, aku belajar ternyata antara pasrah dan berserah diri bisa beda tipis, kadang awalnya berserah diri di pertengahan jalan bisa aja jadi pasrah
menjelang usia 26 ini, jujur rasanya kayak stuck di umur 19 tahun, kenapa? nggak tau juga si kenapa, ngelihat diri sendiri masih kayak bocil dengan permasalahan dewasanya. Aku mulai mengkhawatirkan banyak hal, seperti karir, jodoh, dan masa depan. aku juga jadi tersadar betapa toxicnya instagram di (bisa dibilang) titik terendah ku saat ini. ngelihat pencapaian orang, kadang jadi mikir tentang pencapaian mereka, sedangkan aku harus terseok-seok di sini, aku mulai membandingkan hidupku dengan orang lain, aku sadar ini salah tapiii aku juga nggak bisa serta merta menghentikan perasaan ini, dan pada akhirnya lagiii... aku menyalahkan diri dan masa lalu yang selalu dibanding-bandingkan dengan saudara ku sendiri.
memang bagian mana hidupmu yang terseok-seok itu?
yaaa, intinya semua berawal dari keputusan ku buat menjauh dari kehidupan yang nggak se-prinsip denganku, kadang aku pikir apa aku terlalu idealis di dunia yang kejam ini? tapi apa salahnya punya pilihan, bukan? toh ini cuma dunia, takut banget kalau keputusan ku ini salah.. aku resign dan ternyata cari kerja se susah itu, padahal udah punya pengalaman 2 tahun, ngelamar beratus ratus lowongan kerja, wawancara, tes sana sini, cpns semuanya udah aku lakuin, tapi pada akhirnya apa? aku nganggur 9 bulan, eitsss tapi ngga sepenuhnya nganggur yaaa.. kalo nganggur selama itu aku bisa stress, aku nerusin usaha makanan yang sempet berhenti, sekarang alhamdulillah nya udah punya "market" sendiri, tapi tetep aja aku terlalu gengsi dan pengen kerja lagi buat modal karena hidup dari jualan yang masih merintis itu nggak mudah. di masa - masa itu aku dapet banyak pelajaran tentang bagaimana harusnya bersyukur, mengimani plan terbaik Allah, tentang gimana "always put trust on Him" mau keadaannya se gimana pun..dan di titik terendah itu, aku menyadari kalo ternyata nggak semudah itu, ternyata se susah itu, ternyata ujiannya seberat itu, susah sekali rasanya bersyukur tanpa melihat ke bawah, tanpa membandingkan hidupku dengan orang yang lebih susah, karena nyatanya selalu diajarkan "kamu masih mending, banyak di luar sana yang....." aku nggak tau konsep bersyukur ini bener atau engga.. berkali-kali gagal dan kecewa, sempet mempertanyakan dan kesel dengan takdir yang udah Allah tetapin, "ya Allah kenapa harus gini jadinya? kapan kebaikan itu datang ya Allah?" aku sampai di titik ibadah seadanya, berdo'a pun enggan karena pada akhirnya do'a ku nggak bakal terkabul. cukup lama sampai pada akhirnya aku menyadari bahwa aku SANGAT EGOISSSS sama Allah. aku selalu menuntut pemberian Allah, sedang aku terlalu banyak mengecewakan, berbuat maksiat, nunda sholat, sholat nggak ada ruhnya, padahal Allah masih tetep baik kasih rezeki dalam bentuk lain.. aku masih dikasih hidup, dikasih sehat, bisa ini itu, nikmatin ini itu. masih di rumah yang nyaman. fa bi ayyi alaa i rabbikuma tukadhiban? sampe pada akhirnya aku diterima kerja di tempat yang se engga nya sesuai sama prinsip hidup ku, lingkungan yang lebih baik meski gajinya nggak se gede dari sebelumnya. semua ada plus minusnya, semua sudah tertakar, rezeki bukan soalan tentang uang. udah jadi kesepakatan dengan diriku sendiri aku nggak mungkin cuma mengandalkan pekerjaan ini, aku bisa nerusin usaha ku. WE NEVER KNOW, ALWAYS PUT TRUST ON HIM, WHATEVER YOU ARE
setelah ini pun aku tetep overthink tentang jodoh yang nggak kunjung datang hehee. namanya juga manusia, yaa gini lahhh.. rasanya kek ini seriusan nggak ada yg tertarik? btw aku jomblo dari lahir, jadi sebenernya aku sangat menikmati singlelillah ini, tapi agak mengkhawatirkan juga kalau belum ada hilal samsek, again.. karena society yg seperti ini, rasanya seolah-olah aku terlambat bangett, padahal di negara lain usia segini mah masih muda bangett. aku ngerasa umur 23 tahun tuh aku baru ngerasain hidup lhoo, masa suruh punya banyak pencapaian? yang bener ajeee. kadang mikir juga apa aku se jelek ini? apa aku nggak sepantes ini buat dinikahin? soalnya temen kuliah ku juga pernah bilang (btw dia laki ya dan aku sempet have a crush on him) aku JELEK, yaa AKU JELEK, bisa kebayang sakitnya kek mana? dan aku makin kesini makin setuju dengan statment dia tentang aku JELEK ini. astaghfirullah, walaupun maksudnya mungkin bercanda ya tapi sebenernya maksud dia tu menyampaikan dengan cara bercanda, huhuhuuuu.. aku nangisin semua apa yg terpikir di kepala, tiba-tiba mellow, tiba-tiba nangis sendiri, apalagi ngomong sendiri, trs nanti jadi ngetawain hidup ku.. plis takut banget gila. tapi menurutku ini wajar sihhh, iya kannn?
Komentar
Posting Komentar